PENGARUH LATIHAN FISIK TERPROGRAM

Dipublikasi di Ilmu Keolahragaan | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

PENYUSUNAN PROGRAM LATIHAN

PENYUSUNAN PROGRAM LATIHAN

Mempersiapkan seorang atlit untuk menghadapi pertandingan hingga mencapai tingkat prestasi yang tinggi atau maksimal, diperlukan waktu yang cukup lama serta penyusunan program latihan yang seksama, teratur, sistematis, bertahap serta terus menerus sepanjang tahun tanpa selingan berhenti sedikitpun. Latihan yang dilakukan hanya insidentil, atau hanya selama 6 bulan, bahkan kurang setiap tahunnya, tidak ada artinya sama sekali. Bahkan mungkin dapat merusak perkembangan atlit di kemudian harinya.

1. Unsur- unsur  yang Harus Diperhatikan

Untuk menyusun program latihan yang teratur perlu diperhatikan unsur-unsur (Iwan Setiawan: 1991) sebagai berikut:

a.       Kemampuan atlit, baik fisik maupun mental

b.      Waktu pelaksanaan program latihan untuk mengembangkan tenaga/ kekuatan, daya tahan, kecepatan, flexibility, dan lain-lain untuk dikembangkan dengan sebaik-baiknya.

c.       Cabang olahraga yang akan disiapkan

d.      Standar atau tingkatan nasional atau internasional

e.       Keadaan daerah setempat: Tradisi, iklim, dan lain-lain

f.       Faktor latihan: Prestasi, volume, intensitas

g.      Jadwal perlombaan dan uji coba

h.      Periodisasi latihan

Untuk membina atlit agar dapat ditingkatkan prestasi setinggi-tingginya, diperlukan jangka waktu yang cukup lama. Oleh karena membutuhkan waktu yang lama, maka latihan-latihan tersebut dilaksanakan secara bertahap, yang terdiri dari: Program Jangka Panjang dan Program Tahunan.

2. Penentuan Dosis Beban Latihan

Pada dasarnya beban latihan itu bersifat individual (Suharno, 1993)

a.       Cara penentuan dosis beban latihan dengan Repetisi Maksimal. Bentuk beban latihan tunggal untuk menentukan intensitas beban latihan berdasarkan kemampuan maksimal atlit.

b.      Cara kenaikan denyut nadi. Beban latihan dikatakan maksimal apabila setelah selesai latihan denyut nadi atlet naik menjadi 3 – 3,5 kali denyut nadi normal

c.       Cara penentuan intensitas beban latihan anaerobik dengan gerakan-gerakan maksimal selama 10”, 15”, 20”, 25”, 30”, 34”

d.      Denyut nadi maksimal (DNM) = 220 – umur. Denyut Nadi Latihan (Training Zone) = 80 – 90% x DNM

3. Siklus Mikro/ Latihan Mingguan

Program latihan mingguan disusun setiap minggu dengan mempertimbangkan berbagai hal. Program latihan mingguan bermanfaat untuk menentukan jumlah hari latihan dan jumlah sesi latihan (frekuensi latihan). Beberapa hal perlu dipertim-bangkan dalam menyusun program mingguan adalah sebagai berikut:

a. Usia kronologis dan usia pertumbuhan dan perkembangan anak.

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam proses berlatih adalah pertumbuhan fisik dan mental serta usia latihan (waktu yang diperlukan untuk berlatih). Semakin cepat pertumbuhan dan perkembangan anak dan usia latihan yang semakin lama, hari, dan sesi latihan yang diberikan kepada siswa dapat ditingkatkan.

b. Periode dan fase.

Untuk menyusun latihan mingguan perlu diketahui periode dan fase latihan mingguan yang disusun. Periode dan fase perlu disesuaikan dengan grafik intensitas dan volume latihannya.

c. Pengaturan beban latihan

Untuk memberikan beban secara proporsional kepada atlet perlu memper-hatikan pengaturan beban latihan. Dengan pengaturan beban latihan yang tepat dapat mengadaptasi dan mengalami kompensasi akibat latihan yang dilakukan.

4. Siklus Makro/ Latihan Bulanan

Sebagai pedoman untuk memudahkan perencanaan, anggaplah satu siklus makro berlangsung selama 1 bulan, dan satu siklus mikro selama 1 minggu. Namun ini tidak mutlak. Bisa saja pelatih agak menyimpang dari pedoman, sesuai dengan kondisi atau waktu latihan yang tersedia. Hal ini merujuk pendapat Pyke dan Rushall (1992) mengatakan “Macrocycles are periods of 3-5 weeks (monthly), while microcycles are 7-10 days (weekly) in length”

Ada beberapa pelatih yang memakai 1 siklus latihan lagi dalam programnya, yaitu siklus meso (mesocycle) yang menjembatani siklus makro dan mikro. Menurut Matveyev (1981) “One mesocycle consist of a minimum two microcycles”

Dipublikasi di Ilmu Keolahragaan | Tag , | Meninggalkan komentar

HORMON EPINEFRIN(ADRENALIN)

HORMON EPINEFRIN(ADRENALIN)

LOKASI SINTESIS

Hormon epinefrin disintesis pada kelenjar adrenal bagian medulla oleh sel-sel kromafin.

SEL TARGET

Sel target epinefrin adalah sel saraf dari semua reseptor simpatis di seluruh tubuh.

PROSES SINTESIS

Epinefrin disintesis dari norepinefrin dalam sebuah jalur sintesis yang terbagi atas keseluruhan katekolamin, termasuk L-dopa, dopamine, norepinefrin, and epinefrin.

Epinefrin disintesis melalui metilasi terhadap amina pangkal primer pada norepinefrin oleh feniltanolamin N-metiltransferase (PNMT) dalam sitosol neuron adrenergik dan sel-sel medulla adrenal (sel kromafin). PNMT hanya terdapat pada sitosol sel-sel medula adrenal.. PNMT menggunakan S-adenosilmetionin (SAMe) sebagai ko-faktor yang menyumbangkan gugus metil pada norepinefrin, membentuk epinefrin.

Karena norepinefrin diaktifkan oleh PNMT dalam sitosol, pertama norepinefrin harus diubah di luar granula sel kromafin. Hal ini bisa terjadi via katekholamin-H+ penukar VMAT1. VMAT1 juga bertanggung jawab mentransport epinefrin yang baru disintesis dari sitosol kembali ke dalam granula sel kromafin untuk persiapan pelepasan.

Jalur biosintetik utama : fenilalanin→tirosin→dopa→dopamin→norepinefrin→ epinefrin.

Tirosin dioksidasi menjadi dopa, dan mengalami dekarboksilasi menjadi dopamin, yang dioksidasi menjadi norepinefrin. Norepinefrin dimetilasi menjadi epinefrin. Hasil akhir biosintesis epinefrin dan norepinefrin atau disebut katekolamin dapat berupa dopamin pada jaringan-jaringan tertentu (misalnya paru, usus, hati) di sana zat tersebut bereaksi sebagai hormon lokal (Bagnara dan Turner, 1988).

Norepinefrin terbentuk melalui hidroksilasi dan dekarboksilasi tirosin, dan epinefrin melalui metilasi norepinefrin. Feniletanolamin-N-metiltransferase (PNMT), enzim yang mengkatalisis pembentukan epinefrin/epinefrin dari norepinefrin, ditemukan dalam jumlah cukup banyak hanya di otak dan medulla adrenal. PNMT medulla adrenal diinduksi oleh glukokortikoid, dan walaupun diperlukan jumlah relatif besar, konsentrasi glukokortikoid dalam darah yang mengalir dari korteks ke medula cukup tinggi. Setelah hipofisektomi, konsentrasi glukokortikoid darah ini turun dan sintesis epinefrin menurun.

Epinefrin yang ditemukan dalam jaringan di luar medulla adrenal dan otak sebagian besar diserap dari darah dan bukan disintesis in situ. Yang menarik, epinefrin kadar rendah kembali muncul dalam darah beberapa waktu setelah adrenalektomi bilateral, dan kadar ini diatur seperti yang disekresi oleh medula adrenal (Ganong, 1995).

FUNGSI / EFEK FISIOLOGIS

Hormon epinefrin berfungsi memicu reaksi terhadap tekanan dan kecepatan gerak tubuh. Tidak hanya gerak, hormon ini pun memicu reaksi terhadap efek lingkungan seperti suara derau tinggi atau intensitas cahaya yang tinggi. Reaksi yang sering dirasakan adalah frekuensi detak jantung meningkat, keringat dingin dan keterkejutan/shok.

Fungsi hormon ini mengatur metabolisme glukosa terutama disaat stres. Hormon epinefrin timbul sebagai stimulasi otak, menjadi waswas dan siaga. Dan secara tidak langsung akan membuat indra kita menjadi lebih sensitif untuk bereaksi. Stres dapat meningkatkan produksi kelenjar atau hormon epinefrin. Sebenarnya, jika tidak berlebihan, hormon bisa berakibat positif, lebih terpacu untuk bekerja atau membuat lebih fokus. Tetapi, jika hormon diproduksi berlebihan akibat stres yang berkepanjangan, akan terjadi kondisi kelelahan bahkan menimbulkan depresi. Penyakit fisik juga mudah berdatangan, akibat dari darah yang terpompa lebih cepat, sehingga menganggu fungsi metabolisme dan proses oksidasi di dalam tubuh.

Epinefrin selalu akan dapat menimbulkan vasokonstriksi pembuluh darah arteri dan memicu denyut dan kontraksi jantung sehingga menimbulkan tekanan darah naik seketika dan berakhir dalam waktu pendek. Hormon epinefrin menyebar di seluruh tubuh, dan menimbulkan tanggapan yang sangat luas: laju dan kekuatan denyut jantung meningkat sehingga tekanan darah meningkat, kadar gula darah dan laju metabolisme meningkat, bronkus membesar sehingga memungkinkan udara masuk dan keluar paru-paru lebih mudah, pupil mata membesar, kelopak mata terbuka lebar, dan diikuti dengan rambut berdiri.

Keadaan stres akan merangsang pengeluaran hormon epinefrin secara berlebihan sehingga menyebabkan jantung berdebar keras dan cepat. Hormon epinefrin diproduksi dalam jumlah banyak pada saat sedang marah. Indikasi stres adalah sulit tidur, cepat lelah, mudah terusik, kepala pusing, dan sebagainya. Penderita stres umumnya juga kehilangan nafsu makan.

Hormon epinefrin mempengaruhi otak akan membuat indra perasa merasa kebal terhadap sakit, kemampuan berpikir dan ingatan meningkat, paru-paru menyerap oksigen lebih banyak, glukogen diubah menjadi glukosa yang bersama-sama dengan oksigen merupakan sumber energi. Detak jantung dan tekanan darah juga meningkat sehingga metabolisme meningkat.

Hormon ini berfungsi untuk mencegah efek penuaan dini seperti melindungi dari Alzheimer, penyakit jantung, kanker payudara dan ovarium juga osteoporosis. Semakin tinggi tingkat DHEA (dehidroepiandrosteron) dalam tubuh, maka makin padat tulang.

Molekul-molekul epinefrin memiliki fungsi khusus dalam pembuluh vena dan arteri yang memastikan bahwa organ-organ penting menerima lebih banyak aliran darah di saat bahaya, dan karena itu, molekul-molekul ini melebarkan pembuluh darah menuju jantung, otak, dan otot. Sel-sel yang mengelilingi pembuluh merespon epinefrin dan mengalirkan lebih banyak darah yang dibutuhkan jantung. Dengan cara ini, darah tambahan yang dibutuhkan oleh otak, otot, dan jantung dapat dipasok.

Secara garis besar, aksi yang ditimbulkan oleh epinefrin antara lain : menambah kadar gula darah (hiperglikemik), merangsang adenohipofisis untuk pelepasan ACTH, meningkatkan konsumsi oksigen dan laju metabolisme basal, menaikkan frekuensi (efek kronotropik positif) dan amplitudo kontraksi jantung, dilatasi pembuluh darah di otot rangka dan hati, keresahan, kecemasan, perasaan lelah, mengurangi kadar eosinofil, meningkatkan kecepatan tingkat metabolik yang independen terhadap hati.

MEKANISME PENGATURAN SEKRESI

Epinefrin disekresikan di bawah pengendalian sistem persarafan simpatis. Dapat meningkat dalan keadaan dimana individu tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Pengeluaran yang bertambah akan meningkatkan tekanan darah untuk melawan shok yang disebabkan oleh situasi darurat.

Sekresi hormon ini terjadi dengan meningkatan kerja sistem pernafasan yang mengakibatkan paru-paru bekerja ekstra untuk mengambil oksigen lebih banyak hingga meningkatkan juga peredaran darah di seluruh bagian tubuh mulai dari otot-otot hingga ke otak, dan peningkatan tersebut disebutkan beberapa riset bisa naik mencapai 300% melebihi batas normal. Akibatnya, bukan jantung saja yang dapat terasa berdebar, namun keseluruhan sistem tubuh termasuk pengeluaran keringat juga akan meningkat dengan cepat. Aliran darah di kulit akan berkurang untuk dialihkan ke organ lain yang lebih penting sehingga orang-orang yang menghadapi stress biasanya gampang berkeringat, dimana dalam pengertian awam sering disebut keringat dingin. Sekresi ini menaikkan konsentrasi gula darah dengan menaikkan kecepatan glikogenolisis di dalam liver. Rangsangan sekresi epinefrin bisa berupa stres fisik atau emosional yang bersifat neurogenik.

Faktor yang berfungsi mengatur sekresi epinefrin, antara lain :

a. Faktor Saraf : Bagian medula mendapat pelayanan dari saraf otonom. Oleh karena itu sekresinya diatur oleh saraf otonom

b. Faktor kimia: Susunan bahan kimia atau hormon lain dalam aliran darah mempengaruhi sekresi hormon tertentu.

c. Komponen non hormonal

Epinefrin segera dilepaskan di dalam tubuh saat terjadi respon terkejut atau waspada.  Saat tubuh mengalami ketegangan yang parah, hipotalamus mengirimkan perintah ke kelenjar pituitari agar melepaskan ACTH (hormon adrenokortikotropis).  Di sisi lain, ACTH merangsang korteks adrenal, mendorong pembuatan kortikosteroid.  Kortikosteroid ini memastikan produksi glukosa dari molekul-molekul seperti protein, yang tak mengandung karbohidrat. Akibatnya, tubuh menerima tenaga tambahan dan tekanan pun berkurang.

Cairan ini mengirimkan lebih banyak gula dan darah ke otak, membuat  orang lebih siaga.  Tekanan darah dan detak jantungnya meningkat, membuatnya lebih waspada.  Ini hanyalah beberapa perubahan yang dihasilkan epinefrin pada tubuh seseorang.

Saat ada bahaya, reseptor di dalam tubuh ditekan, dan otak mengirimkan perintah secepat kilat ke kelenjar adrenal. Sel-sel di bagian dalam kelenjar adrenal lalu beralih ke keadaan siaga dan melepaskan hormon epinefrin untuk menghadapi keadaan darurat. Molekul-molekul epinefrin bercampur dengan darah dan menyebar ke seluruh bagian tubuh.

PATHOENDOKRINOLOGI

Berbagai gejala negatif pada aktivitas atau metabolisme organ tubuh karena pengaruh epinefrin bisa disebabkan karena 2 kemungkinan : sekresi yang berlebihan atau sebaliknya kekurangan sekresi. Masalah tersebut di antaranya :

a. Palpitasi

Merupakan gejala abnormal pada kesadaran detak jantung, bisa terlalu lambat, terlalu cepat, tidak beraturan, atau berada dalam frekuensi normal. Gejala ini disebabkan akibat sekresi epinefrin yang berlebihan. Tapi bisa juga karena konsumsi alkohol, kafein, kokain, amfetamin, atau obat-obatan yang lain, penyakit (seperti hipertiroidisme), atau efek panik.

b. Tachychardia

Perningkatan kecepatan aktivitas jantung. Kelainan endokrin seperti feokromositoma dapat menyebabkan pelepasan epinefrin dan tachychardia bebas dari sistem syaraf.

c. Arrhythmia

Keadaan abnormal pada aktivitas elektrik jantung. Jantung bisa berdetak lebih cepat atau sebaliknya malah lebih lambat. Sama seperti palpitasi, kelainan ini dipicu oleh sekresi epinefrin yang berlebihan.

d. Sakit kepala

Kondisi sakit pada kepala, pada bagian leher ke atas. Umumnya disebabkan oleh ketegangan, migrain, ketegangan mata, dehidrasi, gula darah rendah dan sinusitis. Beberapa sakit kepala juga karena kondisi ancaman hidup seperti meningitis, ensephalatis, aneuisme cerebral, tekanan darah sangat tinggi, dan tumor otak.

e. tremor

ritme, pergerakan otot melibatkan pergerakan menuju dan dari (osilasi) salah satu bagian tubuh. Kebanyakan tremor terjadi pada tangan. Pada beberapa orang, tremor adalah gejala kelainan saraf yang lain. Umumnya disebabkan karena masalah pada bagian otak atau spinal cord yang mengontrol otot melalui tubuh atau area tertentu, seperti tangan. Penyebabnya adalah stres yang teralu banyak sehingga sekresi epinefrin menjadi tidak terkendali

f. Hipertensi

Merupakan suatu kondisi medis dimana tekanan darah naik secara kronis. Hipertensi adalah karakter khas dari berbagai abnormalitas kortikal adrenal.

g. Edema paru-paru akut

Akumulasi fluida dalam paru-paru, disebabkan kegagalan jantung melepaskan fluida dari sirkulasi paru-paru, akibat disnormalitas sekresi epinefrin.

h. Alergi

Alergi adalah suatu proses inflamasi yang tidak hanya berupa reaksi cepat dan lambat tetapi juga merupakan proses inflamasi kronis yang kompleks  dipengaruhi faktor genetik, lingkungan dan pengontrol internal.Alergi dikaitkan dengan peningkatan hormone epinefrin dan progesterone. Peningkatan hormon epinefrin menimbulkan manifestasi klinis perubahan suasana hati, dan kecemasan.

Dipublikasi di Ilmu Keolahragaan | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

PRINSIP PRINSIP LATIHAN

Dipublikasi di Ilmu Keolahragaan | Meninggalkan komentar

PENGARUH PELATIHAN LONCAT TEGAK DI TANAH BERPASIR DAN TIDAK BERPASIR TERHADAP KEKUATAN, KECEPATAN, DAN POWER OTOT TUNGKAI

PENGARUH PELATIHAN LONCAT TEGAK DI TANAH BERPASIR DAN TIDAK BERPASIR TERHADAP KEKUATAN, KECEPATAN, DAN POWER OTOT TUNGKAI

I Ketut Sudiana, S.Pd.,M.Kes

Fakultas Olahraga dan Kesehatan, Universitas Pendidikan Ganesha, Jln Udayana Singaraja

Abstrak: penelitian ini tergolong penelitian eksperimental dengan menggunakan rancangan The pretest- posttest control groups same subject design. Tujuan penelitian adalah untuk membuktikan secara ilmiah pengaruh pelatihan loncat tegak di tanah berpasir dan tidak berpasir terhadap kecepatan, kekuatan dan  daya ledak otot tungkai. Sampel penelitian adalah mahasiswa semester satu sampai dengan semester delapan FOK Undiksha yang mengambil matakuliah Pembinaan Prestasi Pencak Silat yang berjumlah 45 orang. Mereka dibagi dalam kelompok eksperimen dan kontrol dengan masing-masing berjumlah 15 orang. Pelatihan terdiri atas pelatihan di tanah ber-pasir dan di tanah yang tidak berpasir sebagai kelompok eksperimen, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan pelatihan (hanya melakukan pelatihan secara konvensional sebagaimana biasanya dilakukan oleh masyarakat umum). Pelatihan dilaksanakan dalam waktu empat minggu. Frekuensi pelatihan tiga kali seminggu, dengan intensitas pelatihan 70% sampai dengan 80% dari Denyut Nadi Maksimal yang dilakukan dalam dua sampai empat  set dan sepuluh repetisi serta istirahat antar set selama dua menit. Data diperoleh dari pengukuran kekuatan otot tungkai dengan meng-gunakan alat back and legs dynamometer, kecepatan otot tungkai dengan kemampuan lari sprint enam puluh meter, dan power otot tungkai dengan menggunakan tes loncat tegak yang dilakukan pada saat pretest dan posttest. Data dianalisis dengan teknik statistik t- test dan dibantu dengan menggunakan program SPSS 10.0. Dari hasil analisis didapatkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna (p>0,05); kelompok perlakuan daya ledak di tanah nilai Sig adalah 0,414, kelompok perlakuan daya ledak di pasir nilai sig adalah 0,043 dan kelompok kontrol nilai sig adalah 0,213. Berdasarkan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa: tidak ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara pelatihan loncat tegak di tanah berpasir dengan tidak berpasir terhadap kekuatan, kecepatan, dan power otot tungkai. Disarankan agar dilakukan penelitian ulang dengan memperhatikan berbagai variabel kendali lainnya seperti suhu udara dan lingkungan, juga memperhatikan pening-katan program pelatihan seperti penyesuaian terhadap takaran pelatihan (repetisi, set, istirahat antar set, frekuensi pelatihan dan durasi pelatihan)

Abstract: this research is categorized is experimental research, using the pretest-pottest control groups same subject design. The objektive of this research was to scientifically prove the effects of upright jump exercise on sandy soil and non sandy soil (ground) toward the strenght, speed, and power leg  muscle. The samples of this studi were the first up to the eighth semester students of th, e faculty of sport and health, Ganesha University of Education,  who took the subject “ Pembinaan Prestasi Pencak Silat” The Training of Self Defence Course, with the total numbers of 45 students.The samples were devided into experimental group and control group, with 15 students in each group. The students of the experimental group were given exercises on the sandy soil and non sansy soil, while the students of the control group were not given and special exercises. They were only given convensional exercises, as usually ferformed by community in general. The exercise was done in 4 weeks.  The frequency of the exercise was three times a week, with 70% to 80% intencity of exercise from the maximum pulse on the wrist, which was ferformed in 2 to 4 sets, with 10 repetisions, and the break between the sets was for 2 minutes. The data were obtained from the measurement of the leg muscle strength by means of back and legs dynamometer. The speed of the leg muscle was measured through the ability of accomplishing sixty meter run. The power of the leg muscle was measured by using upright jumping exercise, which was done during the pretest and posstest. The data were then analyzed by using t-test statistic technique, which was also aided with the use of SPSS 10.0 program. From the result of the data analysis, it was found out that there was no significant difference (p>0,05), in which the sig score of the treatment group with ground exploding capacity was 0,414. The sig score of the treatment group with sandexploding capacity was 0,043, and the sig score of the control group was 0,213. Referring to the result of the analysis previously mentioned, it can be concluded that there was no significant difference between upright-jumping exercise on sandy soil and non sandy soil towards the strength, speed, and power of leg muscles. Based on the result of the sandy, it is suggested to conduct arepeated research, taking into account various controlling variables, such as the temperature of the atmosfhere and environment, and also considereing about the development of exercise program, like the adaptasion the quantity of the exercise (repetition, set, the break between sets, frequency of exercise, and duration of exercise).

Kata kunci: pelatihan, kekuatan, kecepatan, power, otot, tungkai

 

Pembinaan dan pengembangan olahraga merupakan upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia seu-tuhnya yang diarahkan pada peningkatan kebugaran jasmani, rohani serta prestasi. Usaha meningkatkan prestasi harus melalui proses yang membutuhkan jangka waktu yang panjang dan berjenjang. Proses pembinaan harus dipahami sebagai suatu sistem yang kompleks, sehingga masalah di dalamnya perlu di-telaah dari sudut pandang yang luas. Oleh karena itu, dalam mempertahankan maupun meningkatkan prestasi sebagai modal dasar yang perlu dibina ada-lah tingkat kebugaran fisik (biomotorik)  tanpa meng-abaikan aspek-aspek mental, sosial budaya yang bercirikan bio-psiko-sosio-kultural (Lutan,1988).

Kemampuan kebugaran fisik (biomotorik) yang dimaksud adalah kekuatan,  kecepatan, kelincahan, kelentukan, keseimbangan, daya tahan, daya ledak, waktu reaksi, ketepatan, dan koordinasi. Keterkai-tan tiap-tiap kemampuan kebugaran fisik tersebut tidaklah sama bebannya. Setiap cabang olahraga me-miliki persentase yang dominan pada setiap kom-ponen kebugaran fisik. Semakin tinggi tingkat ke-bugaran jasmani seseorang, kesempurnaan kombinasi dari beberapa macam gerakan yang kompleks akan lebih mudah dikuasai sehingga penampilan gerakan pada cabang olahraga yang digeluti tampak lebih indah dan sempurna (Nala, 1998).

Salah satu dari beberapa unsur komponen ke-bugaran fisik di atas yang menjadi objek penelitian adalah power, kecepatan dan kekuatan. Daya leda-kan sangat diperlukan pada cabang  permainan bola voli (smash, blok, dan jump servise), juga pada ca-bang olahraga bola basket (jump shot, lay up shot). Power dapat dinyatakan sebagai kekuatan eksplosif yang predominan kontraksi otot cepat dan kuat. Kedua unsur ini saling berpengaruh dan merupakan komponen yang sangat penting untuk melakukan aktivitas pada cabang olahraga yang membutuhkan kemampuan eksplosif.

Kenyataan di lapangan, pemain bola voli saat melakukan smash ataupun blok terkadang ketepa-tan smash/blok (timming) terlambat akibat power yang belum memadai, Jump shot dan lay up shot pada permainan bola basket terkadang tidak mak-simal akibat kurang mantapnya power tungkai. De-mikian halnya pada cabang bulu tangkis, jump smash yang diharapkan menukik dan jatuh di garis depan justru shuttle coch menyangkut di jaring. Me-lihat kenyataan di lapangan, apa yang diharapkan oleh pelatih atau guru olahraga dan pembina belum menampakkan hasil yang maksimal. Oleh karena itu, dalam benak peneliti muncul berbagai perta-nyaan; apakah ketidakberhasilan atlet disebabkan oleh program pelatihan yang salah?; apakah kurangnya model pelatihan yang mengarah kepada bentuk pelatihan yang menunjang pencapaian prestasi?. Untuk mendapatkan jawabannya dalam penelitian ini, akan diterapkan dua model pelatiha, yaitu pe-latihan loncat tegak di tanah berpasir dan di tanah tidak berpasir.

Berdasarkan hal di atas, maka rumusan masa-lah penelitian ini adalah: bagaimanakah pengaruh pelatihan loncat tegak di tanah berpasir dan tidak berpasir dalam meningkatkan kecepatan, kekuatan, dan power otot tungkai pada mahasiswa FOK Undiksha dalam binaan prestasi pencak silat,? dan pelatihan manakah yang terdapat peningkatan yang lebih tinggi?.

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan ada tidaknya pengaruh pelatihan loncat tegak di tanah berpasir dan di tanah tidak berpasir terhadap peningkatan kecepatan, kekuatan dan  daya ledak otot tungkai. Penelitian ini bermanfaat untuk dapat mem-berikan sumbangan yang berarti bagi perkemba-ngan ilmu pengetahuan, khususnya fisiologi olahraga, dapat dipakai oleh guru olahraga, terutama pada perbendaharaan bentuk-bentuk pelatihan dan pening-katan komponen-komponen kondisi fisik khususnya kekuatan, kecepatan dan daya ledak (power) otot tungkai serta dapat dipakai sebagai dosis pelatihan untuk anak-anak sekolah dasar, sekolah menengah dan juga mahasiswa serta pencinta olahraga pres-tasi untuk meningkatkan unsur biomotorik kekuatan, kecepatan dan power otot tungkai.

Hasil penelitian ini terbatas pada pengaruh pelatihan loncat tegak di tanah dan di pasir ter-hadap kekuatan otot, kecepatan lari, dan power otot tungkai. Dalam hal ini sampel penelitian dilakukan pada pembinaan prestasi pencak silat  mahasiswa FOK Undiksha Singaraja semester 1 sampai de-ngan semester VIII.

Dari beberapa kajian literatur dinyatakan bah-wa kecepatan bergerak merupakan kualitas yang memungkinkan orang mengubah untuk melaksanakan gerak yang sama atau tidak sama secepat mungkin dan kecepatan berhubungan dengan prosentase re-gangan serabut otot dalam tubuh seorang atlet. Karena kuantitas regangan serabut otot dalam tu-buh sebagian akan ditinggalkan, maka akan sulit untuk meningkatkan kecepatan atlet secara nyata tetapi hal itu dapat dilakukan. Kecepatan gerak akan sangat bergantung pada kombinasi dari dua elemen, yaitu waktu reaksi dan waktu bergerak. Waktu be-reaksi merupakan waktu dari rangsangan untuk me-mulai suatu gerakan, sedangkan waktu bergerak adalah waktu yang lewat dari awal gerakan hingga akhir dari suatu gerakan. Kecepatan bergerak mem-punyai unsur pemakaian waktu yang singkat karena kecepatan merupakan kemampuan penentu dalam banyak cabang olahraga seperti bola voli, bola basket, lompat tinggi yang sangat membutuhkan kecepatan meloncat untuk melakukan smash, atau  jump shot dan lompatan di atas tiang mistar lompat tinggi, yang juga didukung oleh komponen-komponen kondisi fisik yang lain seperti kekuatan. Seorang pemain bola voli, bulu tangkis harus mempunyai kecepatan lon-catan yang tinggi agar dalam melakukan smash lawan sulit membendung dan mengembalikannya. Juga pemain bola basket dan sepak bola harus mem-punyai kecepatan berlari, meloncat untuk dapat merebut bola dengan lawan bermainnya.

Pada dasarnya semua cabang olahraga memer-lukan kekuatan otot selama bermain khususnya bola voli dalam melakukan smash, bola basket dalam melakukan gerakan shoting, dan lain-lain. Pate (1993) mengatakan kekuatan akan mencapai hasil mana-kala suatu otot secara berulang-ulang dirangsang untuk menghasilkan suatu tingkat tenaga yang me-lebihi tenaga yang biasa merangsang otot tersebut. Harsono (1998) mengatakan pelatihan yang cocok untuk mengembangkan kekuatan adalah latihan-latihan ketahanan (resistance exercise), dan dimana kita harus mengangkat, mendorong atau menarik suatu beban. Di dalam olahraga kompetisi, kekua-tan merupakan salah satu unsur kemampuan gerak sebagai dasar untuk mencapai prestasi yang tinggi. Di samping itu, juga untuk mempermudah mem-pelajari teknik-teknik, mencegah terjadinya cedera dan memantapkan sikap percaya diri. Oleh karena itu, pelatihan-pelatihan yang cocok untuk mengem-bangkan kekuatan adalah pelatihan-pelatihan keta-hanan (external resistance) dan kita harus meng-angkat, mendorong atau menarik suatu beban. Beban itu bisa beban anggota tubuh kita sendiri, ataupun beban otot dari luar (external resistance). Dalam penelitian ini beban yang digunakan adalah beban berat badan sendiri dengan pelatihan loncat tegak di tempat yang dilakukan secara berulang-ulang se-hingga pelatihan akan terangsang untuk menghasil-kan tingkat tenaga yang lebih besar.

Jensen (1983) mengatakan power otot adalah kombinasi dari kekuatan dan kecepatan, yaitu ke-mampuan untuk menerapkan force dalam suatu yang singkat, untuk memberikan momentum yang paling baik pada tubuh atau objek untuk membawanya ke jarak yang diinginkan. Nala (1998) mengatakan daya ledak adalah kemampuan untuk melakukan aktivitas secara tiba-tiba dan cepat  dengan mengerahkan se-luruh kekuatan dalam waktu yang singkat.

Daya ledak ini sering pula disebut kekuatan eksplosif, ditandai dengan adanya gerakan atau pe-rubahan tiba-tiba yang cepat, tubuh terdorong ke atas atau vertikal (melompat = satu kaki menapak atau meloncat = dua kaki menapak) atau ke depan (horizontal, lari cepat, lompat jauh) dengan menge-rahkan kekuatan otot maksimal (Nala, 1998).

METODE

Jenis penelitian ini tergolong penelitian eksperi-mental dengan menggunakan desain the pretest-posttest control groups same subject design (Zainuddin, 1987). Subjek penelitian ini adalah mahasiswa se-mester 1 sampai dengan VIII yang aktif mengikuti pembinaan prestasi pencak silat pada Fakultas Olah-raga dan Kesehatan, tahun 2008. Subjek penelitian berjumlah 45 orang yang  dibagi menjadi tiga kelom-pok, pembagian dilakukan secara ordinal pairing, masing-masing kelompok 15 orang.

Pelatihan dilaksanakan selama empat minggu, frekuensi pelatihan tiga kali dalam seminggu, de-ngan intensitas pelatihan tujuh puluh persen sampai dengan delapan puluh persen dari denyut nadi mak-simal yang dilakukan dalam dua sampai empat set dan sepuluh repetisi serta istirahat antar set selama dua menit.

Data yang diperoleh dari pengukuran kekua-tan otot tungkai dengan menggunakan alat back and legs dynamometer, kecepatan otot tungkai dengan lari sprint enampuluh meter, dan power otot tung-kai dengan menggunakan tes loncat tegak yang dilakukan pada pretest dan posttest. Uji normalitas data dalam penelitian ini menggunakan uji liliefors kolmogorov-smirnov dan Uji homogenitas data de-ngan uji levene dengan bantuan SPSS 10,0 pada taraf signifikansi (α) 0,05.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Setelah dilakukan pengujian dan pengolahan data, maka hasil penelitian dapat dilakukan sebagai berikut.

Hasil uji normalitas data untuk kelompok kon-trol, kelompok perlakuan di tanah dan kelompok per-lakuan di pasir adalah semua nilai sig (nilai p) lebih besar dari pada 0,05 (perolehan nilai sig antara 0,086 sampai dengan 0,200). Dengan demikian data ber-distribusi normal.

Uji kesamaan varian kecepatan lari untuk ke-lompok kontrol dengan nilai sig (nilai p) adalah 0,078, ini berarti nilai sig lebih besar daripada 0,05. Dengan demikian data bervarian homogen

Uji kecepatan lari untuk kelompok kontrol, ke-lompok perlakuan di tanah dan kelompok per-lakuan di pasir, nilai sig (nilai p) adalah 0,741 ini berarti nilai sig lebig besar daripada 0,05. Dengan demikian tidak ada perbedaan secara bermakna di antara ketiga kelompok tersebut.

Uji kesamaan varian kekuatan otot punggung untuk kelompok kontrol dengan nilai sig (nilai p) adalah 0,442, ini berarti nilai sig lebih besar dari-pada 0,05. Dengan demikian data bervarian homogen

Uji perbedaan kekuatan otot punggung untuk kelompok kontrol, kelompok perlakuan di tanah dan kelompok perlakuan di pasir, nilai sig (nilai p adalah 0,540 ini berarti nilai sig lebig besar dari-pada 0,05. Dengan demikian tidak ada perbedaan secara bermakna di antara ketiga kelompok tersebut.

Uji kesamaan varian power otot tungkai untuk kelompok kontrol dengan nilai sig (nilai p) adalah 0,047 ini berarti nilai sig lebih kecil daripada 0,05. Dengan demikian data bervarian homogen

Uji perbedaan power otot tungkai untuk ke-lompok kontrol, kelompok perlakuan di tanah dan kelompok perlakuan di pasir, nilai sig (nilai p) ada-lah 0,122 ini berarti nilai sig lebih besar daripada 0,05. Dengan demikian tidak ada perbedaan secara bermakna di antara ketiga kelompok tersebut.

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh peningkatan pada kelompok perlakuan di tanah, kelompok perlakuan di pasir dan kelompok kontrol terhadap kecepatan lari, kekuatan otot punggung dan power otot tung-kai pada pembinaan prestasi pencak silat maha-siswa Fakultas Olahraga dan Kesehatan Undiksha tahun 2008.

Pelatihan loncat tegak di tanah dan di pasir tidak berpengaruh terhadap kekuatan otot, kecepatan lari, dan power otot tungkai.


Uji perbedaan secara parsial

Uji kelompok kontrol dengan kelompok per-akuan di tanah (nilai p) adalah 0,414 dan kelompok perlakuan di pasir (nilai p) adalah 0,213

Uji kelompok perlakuan di tanah dengan ke-lompok kontrol (nilai p) adalah 0,414 dan kelom-pok perlakuan di pasir (nilai p) adalah 0,043

Uji kelompok perlakuan di pasir dengan ke-lompok kontrol (nilai p) adalah 0,213 dan kelom-pok perlakuan di tanah (nilai p) adalah 0,043

Dengan demikian, karena nilai sig (nilai p) lebih besar dari 0,05 dari ketiga kelompok di atas, maka tidak ada perbedaan secara parsial.

Berdasarkan nilai tersebut, hipotesis pene-litian yang menyatakan “pelatihan loncat tegak di pasir lebih baik daripada di tanah dalam mening-katkan kekuatan otot, kecepatan lari, dan power otot tungkai” ditolak.

Secara teoretik hasil penelitian ini dapat dije-laskan sebagai berikut. Power otot tungkai adalah kemampuan otot tungkai untuk berkontraksi dengan kekuatan maksimal dalam waktu yang singkat dan mampu mengatasi beban yang diberikan. Power otot tungkai identik dengan kekuatan eksplosif dari kom-ponen otot tungkai (Nala, 1998) untuk mengelu-arkan tenaga besar dalam rentang waktu singkat. Sebagai salah satu komponen biomotorik, power dapat ditingkatkan melalui program pelatihan yang dirancang secara sistematis dan berkesinambungan dengan mengikuti prinsip-prinsip pelatihan yang tepat. Dalam pelatihan loncat tegak di tanah yang ekspolosif ke atas yang dilakukan secara berulang-ulang dengan pembebanan berat badan sendiri, akan memberikan pembebanan pada otot-otot tungkai. Rangkaian gerak loncat tegak di tanah akan meng-akibatkan terjadinya peningkatan tonus otot tungkai yang juga dapat meningkatkan kekuatan otot tung-kai. Selain itu juga akan dapat meningkatkan kece-patan otot tungkai dengan adanya gerak secara eksplosif ke atas secara berulang-ulang. Peningka-tan kekuatan dan kecepatan otot tungkai ini secara langsung akan berpengaruh terhadap peningkatan power otot tungkai.

Berdasarkan data di lapangan diperoleh bahwa pelatihan loncat tegak di tanah dan pelatihan loncat tegak di pasir tidak memberikan efek pelatihan yang bermakna dalam meningkatkan kekuatan, kecepa-tan, dan power otot tungkai. Hal ini diakibatkan antara lain: pelatihan loncat tegak di pasir tidak dilakukan di pesisir pantai yang sesungguhnya, te-tapi dilakukan di lapangan dengan memanipulasi tempat meloncat yang diisi pasir hingga rata dengan tanah, yang diberi ukuran lebar x panjang (50 cm x 40 cm) dengan kedalaman 25 cm. demikian halnya dengan kelompok kontrol juga mengalami pening-katan, Hal ini disebabkan oleh pelatihan yang di-lakukan seperti bermain sepak bola dengan ukuran lapangan kira-kira 50 meter x 40 meter yang di-lakukan secara rutin selama pelatihan berlangsung, demikian pula kelompok perlakuan dan kelompok kontrol mahasiswa pembinaan prestasi pencak silat, dalam kegiatan sehari-harinya sama-sama meng-ikuti perkuliahan praktek di lapangan sesuai de-ngan jadual perkuliahan. Tingkat kebugaran jasma-ninya hampir sama, peningkatan takaran pelatihan terlalu rendah/kecil sehingga efek secara fisiologis tidak menjadi bermakna setelah dilakukan analisis data. Jumlah sampel relatif kecil sehingga sangat berpengaruh pada hasil akhir penelitian.

PENUTUP

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh peningkatan pada kelompok perlakuan di tanah, kelompok perlakuan di pasir dan kelompok kontrol terhadap kecepatan lari, kekuatan otot punggung dan power otot tung-kai pada pembinaan prestasi pencak silat Fakultas Olahraga dan Kesehatan Undiksha tahun 2008.

Berdasarkan simpulan yang telah dikemuka-kan, disarankan agar dilakukan penelitian ulang de-ngan memperhatikan berbagai variabel kendali, seperti suhu udara dan lingkungan, juga mem-perhatikan peningkatan program pelatihan seperti penyesuaian terhadap takaran pelatihan (repetisi, set, istirahat antar-set, frekuensi pelatihan, durasi).


DAFTAR RUJUKAN


Harsono, 1998. Coaching dan Aspek-Aspek Psikilogis dalam Coaching, Proyek Penulisan Buku, Pe-ngembangan Lembaga Pendidikan, Departemen Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, Depdikbud, Jakarta.

Jensen. C.R. dan Fisher A.G, 1983. Scientific Basic of Applied Kinesiology and Biomechanics. Mac Graw-Hill Book, New York.

Lutan, Rusli. 1988. Belajar Keterampilan Motorik, Pengantar Teori dan Metode. Proyek Pengadaan Buku, Dirjen Dikti, Depdikbud, Jakarta.

 

Nala, I.G.N. 1998. Prinsip Pelatihan Fisik Olahraga. Buku Ajar. Program Studi Fisiologi Olahraga, Program Pascasarjana, Universitas Udayana, Denpasar.

Pate, dkk. 1993. Dasar-Dasar Ilmu Kepelatihan. IKIP Semarang Press, Semarang.

Zainuddin, M. 1987. Metodologi Penelitian. Surabaya: Fakultas Farmasi UNAIR.

Dipublikasi di Ilmu Keolahragaan | Tag , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

19 Tips membuat kita bahagia

19 Tips membuat kita bahagia…..

1. kejar tujuan yang bisa dicapai
2. seyumlah dengan setulus hati
3. berbagilah dengan yang lain
4. Bantu tetanggamu
5. Pertahankan semangat jiwa muda
6. Akur dengan yang kaya,miskin,cantik,jelek
7. Tetap tenang dibawah tekanan
8. Cairkan suasana dengan humor
9. Memaafkan yang lain
10. Berteman baik
11. Bekerjasama untuk mencapai hasil yg lebih besar
12. Hargai setiap detik bersama yang tersayang…..
13. Percaya diri tinggi
14. Hormati/hargai yang kurang beruntung
15. Sekali-kali manjakan diri serndiri
16. Jelajahi dunia maya dikala waktu senggang
17. Ambil resiko yang sudah diperkirakan
a. Paham bahwa uang bukanlah segala- galanya..
18. BE YOUR SELF..
Tips hidup sehat…..

olahraga cukup
Istirahat cukup
Nutrisi cukup
Tidur cukup
..uang cukup

Dipublikasi di Uncategorized | Tag | Meninggalkan komentar

Ventilasi Semenit

Ventilasi Semenit

Ventilasi terdiri dari 2 fase. Yaitu, waktu udara masuk ke paru dinamakan inspirasi atau menghirup udara, dan waktu udara keluar dari paru ke lingkungan sekitar, dinamakan ekspirasi atau menghembuskan udara. Ventilasi semenit adalah berapa banyak udara yang dihirup atau dihembuskan (tidak kedua-duanya) dalam waktu 1 menit. Tetapi biasanya yang sering dipergunakan sebagai ukuran adalah udara yang dikeluarkan (VE) bukan jumlah udara yang dihirup (VI). Jumlah ini dapat ditentukan dengan mengetahui: 1) volume tidal (VT) yaitu berapa banyak jumlah udara yang dihirup dan dikeluarkan setiap daur pernafasan, 2) frekuensi bernafas (f) yakni berapa kali bernafas dalam satu menit sehingga dapat ditulis dengan persamaan sebagai berikut:

VE VT f

Ventilasi semenit = volume tidal frekuensi bernafas

(1 menit) (liter) (per menit)

Pada waktu istirahat, frekuensi bernafas biasanya 12x/ menit sedangkan volume tidal rata-rata 0.5 liter udara per sekali bernafas. Dalam keadaan seperti ini, volume udara waktu bernafas dalam satu menit, atau ventilasi semenit adalah 6 liter.

Peningkatan yang bererti pada ventilasi semenit, disebabkan oleh semakin cepatnya atau semakin dalamnya bernafas atau karena oleh kedua-duanya. Selama melakukan latihan yang berat frekuensi bernafas pada orang muda dan sehat biasanya meningkat antara 35-45 kali per menit, dan volume tidal bisa mencapai 2.0 liter bahkan lebih. Sebagai akibatnya, dengan meningkatnya frekuensi bernafas dan volume tidal, maka ventilasi semenit dapat dengan mudah mencapai 100 liter atau sekitar 17 kali lebih besar daripada waktu istirahat. Pada atlet dayatahan (laki-laki) dalam kondisi yang baik, ventilasi semenit dapat mencapai 160 liter per menit selama melakukan latihan maksimal.

Wilmore, dkk., (1972) melaporkan bahwa ventilasi semenit sebesar 208 liter per menit yang dicapai oleh seorang pemain sepakbola profesional pada waktu melakukan latihan maksimal dengan sepeda ergocycle. Walaupun ventilasi semenit sebesar itu, namun volume tidal sangat jarang melebihi 55% dari kapasitas vital, baik pada orang terlatih maupun pada orang yang tidak terlatih. (Folinsbee, L.J., dkk., 1983)

Ventilasi Alveoli dan Ruang Mati

Tidak semua udara pada setiap kali bernafas masuk ke alveoli dan oleh karena itu, tidak semuanya udara yang kita hirup terlibat dalam pertukaran gas. Jadi udara segar yang dapat masuk ke alveoli dinamakan ventilasi alveoli. Sedangkan udara yang tetap berada dalam lintasan pernafasan (hidung, mulut, faring, laring, trakea, bronchi, bronchioli) dan tidak ikut dalam pertukaran gas dinamakan ruang mati anatomis.

Pada orang yang sehat volume udara pada ruang mati anatomis rata-rata 150 – 200 ml atau sekitar 30% dari volume tidal istirahat. Selama melakukan latihan, terjadi pelebaran lintasan pernafasan, sehingga ruang mati anatomis menjadi lebih besar. Tetapi karena volume tidal pada waktu latihan juga meningkat, ventilasi alveoli juga tetap memadai, dan karena itu pertukaran gas tetap bisa dipertahankan.

Ventilasi alveoli tergantung kepada 3 faktor:

1. dalamnya waktu menarik nafas (vol. tidal)
2. kecepatan waktu bernafas (frekuensi)
3. ukuran ruang mati

Volume dan Kapasitas Paru

Seperti dikatakan sebelumnya, peningkatan volume tidal selama latihan mempunyai andil terhadap meningkatnya ventilasi semenit. Selama melakukan latihan yang maksimal, volume tidal mungkin bisa mencapai lima sampai enam kali lebih besar daripada waktu istirahat. Menigkatnya volume tidal merupakan hasil pemakaian volume cadangan inspirasi (inspiratory reserve volume – IRV) dan volume cadangan ekaspirasi (expiratory reserve volume – ERV) tetapi kemungkinannya lebih besar pada pemakaian volume cadangan inspirasi daripada ekspirasi.

Terjadi sedikit penurunan pada kapasitas total paru (total lung capacity – TLC) dan kapasitas vital (vital capacity – VC) selama latihan berhubungan dengan meningkatnya aliran darah pulmoner. Meningkatnya jumlah darah di dalam pembuluh kapiler pulmoner menyebabkan volume ruang gas yang tersedia semakin berkurang. Sebagai akibatnya, volume residu (functional residual volume – RFC) akan sedikit meningkat selama latihan

Berdasarkan pada beberapa hasil penelitian, bahwa ukuran tubuh proporsional terhadap kapasitas total paru dan terutama kapasitas vital, dan kelompok atlet umumnya lebih tinggi dan lebih besar daripada non-atlet. Perenang biasanya telah menyumbangan kapasitas vital yang besar daripada kapasitas vital sebelumnya. Karena bentuk latihan tahanan yang dilakukan perenang ketika mengeluarkan nafas di dalam air akan mengakibatkan kapasitas vital yang lebih besar.

Berbagai macam volume dan kapasitas paru tidak hanya dipengaruhi oeh ukuran dan pengembangan tubuh, tetapi juga oleh posisi tubuh. Apabila seseorang dalam keadaan berbaring, sebagian besar volume akan menurun. Hal ini disebabkan oleh 2 faktor. Pertama, organ-organ yang ada di dalam perut, cenderung mendorong diafragma dan sebagai akibatnya mempengaruhi grafitasi pada posisi telentang, dan yang kedua karena terjadi peningkatan volume darah pulmoner sebagai hasil dari perubahan tekanan hemodinamik.

Volume residu bertindak sebagai reservoar didalam mengurangi besarnya fluktuasi karbondioksida dan oksigen pada aliran darah pulmoner. Dengan kata lain, pindahnya karbondioksida dari darah adalah untuk mempertahankan batas nominal. Dan pada waktu yang bersamaan okasigen terus berdifusi ke dalam darah.

Kapasitas vital dipengaruhi oleh posisi tubuh. Kekuatan otot-otot pernafasan, kemampuan paru, dan rongga dada untuk berkembang. Tetapi apabila rongga dada terbenam dalam air, seperti penimbangan berat badan dalam air, maka kapasitas vital sedikit menurun. Jadi bentuk latihan yang paling baik untuk pengembangan volume paru adalah berenang.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag | Meninggalkan komentar